Minggu, 05 Oktober 2014

Keutamaan Menghafal Alqur'an





A.
 
Pengertian Tahfidz Al-Qur’an
Tahfidz Al-Qur’an terdiri dari dua kata yaitu tahfidz dan Al-Qur’an. Kata tahfidz merupakan bentuk masdar ghoir mim dari kata حَفَّظَ – يُحَفِّظُ - تَحْفِيْظًا yang mempunyai arti menghafalkan. Sedangkan menurut Abdul Aziz Abdul Rauf definisi tahfidz atau menghafal adalah proses mengulang sesuatu, baik dengan membaca atau mendengar. Pekerjaan apapun jika sering diulang, pasti menjadi hafal.
 Sedangkan pengertian Al-Qur’an secara etimologi bentuknya isim masdar, diambil dari kata قَرَأَ-يَقْرَأُ-قِرَاءَةً وَقُرْأَنًأ  yang merupakan sinonim dengan kata قِرَاءَة, sesuai dengan wajan فُعْلَانٌ sebagaimana kata غُفْرَان dan kata شُكْرَان  mengandung   arti yaitu bacaan atau kumpulan. Sebagaimana firman Allah SWT. Dalam surat Al-Qiyamah ayat 17 dan 18:
إِنّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ﴿١٧﴾ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ﴿١٨﴾
Artinya:”Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.(17) Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”. (18)
            Sedangkan secara terminologi Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai mukjizat yang tertulis dalam lembaran-lembaran, yang diriwayatkan secara mutawattir, dan membacanya merupakan ibadah.
             Setelah melihat pengertian tahfidz/menghafal dan Al-Qur’an diatas dapat disimpulkan bahwa menghafal Al-Qur’an adalah suatu proses untuk memelihara, menjaga dan melestarikan kemurnian Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. diluar kepala agar tidak terjadi perubahan dan pemalsuan serta dapat menjaga dari kelupaan baik secara keseluruhan ataupun sebagiannya.

B.     Hukum Menghafal Al-Qur’an
Menurut Imam Nawawi hukum menghafal Al-Qur’an adalah fardu kifayah. Termasuk hukumnya fardu kifayah, ilmu-ilmu syara’ yang mesti diperoleh oleh seorang muslim untuk menegakkan agamanya seperti menghafal Al-Qur’an. Yang dimaksud dengan fardu kifayah yaitu kewajiban yang ditujukan kepada semua mukallaf atau sebahagian dari mereka yang apabila diantara mereka (cukup sebagiannya saja) melaksanakannya maka akan menggugurkan dosa yang lainnya (yang tidak melaksanakan) dan apabila tidak ada seorangpun yang melaksanakan kewajiban tersebut maka dosanya ditanggung bersama.  .
Orang yang melaksanakan fardu kifayah itu mempunyai kelebihan tersendiri dari pada orang yang melaksanakan fardu ‘ain, karena dia menggugurkan dosa umat yang tidak melaksanakan. Imam Haramain dalam kitab Al-Giyaai mengungkapakan bahwa fardu kifayah lebih utama dari pada fardu ‘ain dilihat dari bahwa pelakunya itu menutupi dan menggugurkan dosa umat islam yang lainnya sedangkan fardu ain hanya untuk dirinya sendiri.

C.    Kiat-kiat Dalam Menghafal Al-Qur’an
10 kiat-kiat dalam menghafal Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:
1.      Mempunyai niat yang benar dan ikhlas karena mengharapkan ridho Allah dalam menghafal  Al-Qur’an itu, dalam artian menghafal Al-Qur’an itu bukan karena ingin mencari popularitas/ingin terkenal atau ingin dipuji orang bahwa dia hafal Al-Qur’an. Apabila seseorang mempunyai keinginan untuk menghafal Al-Qur’an disertai dengan niat yang benar dan ikhlas maka niscaya Allah akan mem berikan pintu kemudahan baginya dalam menghafal.
Seseorang yang menghafal al-Qur’an karena riya/ingin dilihat orang lain maka tidak ada pahala baginya bahkan dia tidak akan pernah mencium baunya syurga. Sebagaimana hadits Nabi Saw yang berbunyi:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يَبْتَغِيْ بِهِ وَجْهَ اللهِ لاَيَتَعَلَّمَهُ إِلَّا لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرَقَ الَجنَّةِ يَوْمَ القِيَامَةِ يَعِي رِيْحَهَا (صحيح الجامع 6159)
Artinya;” Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu karena mengharapkan kepentingan dunia bukan ikhlas karena mengharapkan ridho dari Allah mka niscaya dia tidak akan pernah menemukan baunya syurga pada hari kiamat.”
2.      Senantiasa berdoa dan bermunajat kepada Allah untuk supaya diberikan kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an. Tidak ada seorangpun yang memberikan kekuatan dan kemudahan untuk mengahafal Al-Qur’an kecuali Allah. Ibnu Abbas pernah berkata:” kalau lah tidak Allah berikan kekuatan kepada manusia untuk dapat membaca Al-Qur’an dan menghafalnya niscaya manusia tidak akan mampu untuk membaca dan menghafalnya”. Dan ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا القُرْانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِر )القمر : ١٧)
Artinya: “Sesungguhnya kami telah meةberikan kemudahan Al-Qur’an ini untuk diingat, apakah kamu akan senantiasa mengingatnya.” 
Dengan demikian, sudah selayaknya manusia selalu bermohon/berdo’a kepada Allah yang memberikan kemudahan ketika hendak menghafal Al-Qur’an dengan penuh kekhusuan dan rasa rendah diri pada waktu-waktu yang mustajab/diijabah do’a seperti tengah malam disaat manusia terlelap tidur. Do’a tersebut dipanjatkan setelah melaksanakan shalat malam/ shalat tahajjud boleh menggunakan bahasa sendiri atau bahasa arab seperti do’a berikut ini:
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مِنَ القُرْاَنِ مَاجَهِلْنَا وَذَكِّرْنَا مِنْهُ مَانَسِيْنَا. الَّلهُمَّ يَسِّرْلَنَا حِفْظَ كِتَابِكَ وَالْعَمَلَ بِهِ. أَسْأَلُكَ يَااللهُ يَارَحْمَن بِجَلاَلِكَ وَنُوْرِ وَجْهِكَ اَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِيْ وَارْزُقْنِي اَنْ اَتْلُوَهُ عَلىَ النَّحْوِ الَّذِيْ يُرْضِيْكَ عَنِّي.
3.      Perbanyak istigfar/minta ampunan kepada Allah dari segala dosa yang telah diperbuat dan jauhilah perbuatan-perbuatan maksiat, karena inilah yang dapat menhambat seseorang dalam menghafal Al-Qur’an.
4.      Sabar dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menghafal Al-Qur’an. Pada mulanya menghafal Al-Qur’an itu nampak sulit dan malas rasanya untuk melakukannya itu karena itulah tipu daya syaitan yang selalu berusaha menggoda manusia untuk menghidari dari perbuatan baik termasuk menghafal Al-Qur’an. Oleh karena itu, dianjurkan bagi kita supaya terhindar dari sifat malas maka hendaklah membiasakan doa Nabi Saw sebagai berikut:
اللَّهُمَّ اِنِّي اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Karena menghafal Al-Qur’an ini banyak godaan dan gangguan, maka dibutuhkan kesabaran untuk senantiasa rutin dalam menghafal. Insyaallah kalau kita sabar Allah akan senantiasa memberikan kemudahan pada kita.
5.      Meluangkan waktu untuk menghafal Al-Qur’an. Sempatkan waktu untuk menghafal dan jadwalkan hari dan jam sekian saya wajib ngafal jangn digunakan untuk hal yang lain supaya pikiran kita terpusat pada satu titik yaitu menghafal Al-Qur’an.
6.      Tidak menyibukkan diri dari hal-hal yang sifatnya duniawi, dalam artian bukan berarti harus meniggalkannya tetapi jangan terlalu jadi perhatian kita.
7.      Buatlah jadwal harian untuk menambah hafalan dan mengulangnya.
8.      Dianjurkan menghafal Al-Qur’an itu pada waktu-waktu yang banyak keutamaannya atau dalam shalat-shalat sunnah seperti pada malam hari dan setelah shubuh. Bukan berarti pada waktu-waktu lain tidak boleh akan tetapi alangkah lebih baiknya pada waktu-waktu tersebut.
9.      Ketika menghafal ini hendaklah suaranya dikeraskan, jangan sampai membacanya dalam hati atau pelan-pelan. Karena, itu akan menambah kekuatan hafalan.
10.  Membacanya dengan bacaan tartil, jangan tergesa-gesa. Hal itu juga dapat mempengaruhi kuatnya hafalan, semakin dia cepat membacanya semakin cepat juga dia lupa tetapi kalau dia membacanya dengan tartil maka hafalannya itu akan sulit untuk hilangnya.

D.    Metode Menghafal Al-Qur’an
Terlebih dahulu kamu membaca ayat yang ingin dihafal, kemudian membacanya sendiri berulang-ulang sambil melihat mushaf Al-Qur’an. setelah itu, kemudian kamu dapat memilih cara/metode menghafal berikut ini:
1.      Metode tasalsuli (menghafal secara berantai), yaitu menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan cara menghafal satu ayat sampai hafal dengan lancar, kemudian pindah ke ayat kedua sampai benar-benar lancar, setalah itu, gabungkan ayat 1 dengan ayat 2 tanpa melihat mushaf. Jangan berpindah ke ayat selanjutnya kecuali ayat sebelumnya lancar, begitu juga seterusnya ayat ketiga sampai satu halaman, kemudian gabungkan dari ayat pertama sampai terakhir . Cara ini membutuhkan kesabaran dan sangat melelahkan karena harus banyak mengulang-ngulang setiap ayat yang sudah hafal kemudian digabungkan dengan ayat sebelumnya sehingga menguras banyak energi, tetapi akan menghasilkan hafalan yang benar-benar mantap.
2.      Metode jam’ii (menghafal secara menggabungkan), yaitu menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan cara menghafal satu ayat sampai lancar, kemudian bepindah ke ayat kedua, setelah ayat kedua lancar berpindah ke ayat ketiga, begitu juga seterusnya sampai satu halaman. Kemudian setelah dapat mengahafal satu halaman, menggabungkan hafalan dari ayat pertama sampai terakhir tanpa melihat mushaf. Ini juga kalau mampu digabungkan satu halaman sekaligus, kalau dianggap sulit, maka dibagi dua menjadi setengah halaman dengan melihat mushaf terlebih dahulu dan setelah itu, membacanya tanpa melihat mushaf. Dan setengah yang kedua pun demikian, setelah lancar, maka gabungkan setengah pertama dan setengah kedua dengan cara dihafal.
3.      Metode muqsam (menghafal dengan cara membagi-bagi), yaitu menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan cara membagi-bagi menjadi beberapa bagian, setiap bagian itu menghafalnya secara tasalsul (mengulangi dari awal), setelah tiap-tiap bagian telah sempurna (satu halaman) dihafal, kemudian disatukan/digabungkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya sampai seluruh bagian dapat digabungkan tanpa melihat mushaf  . Metode ini pertengahan antara metode tasalsul dan jam’ii.
      Metode yang ketiga ini dianggap yang paling mudah, tidak terlalu memberatkan seperti halnya metode tasalsuli, akan tetapi ketiga metode ini bukanlah metode yang mesti dilakukan oleh setiap orang karena setiap metode ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ini tergantung pada pribadi masing-masing mana yang dianggap bagus dan cocok diterapkan, atau bahkan keluar dari ketiga metode diatas, maka terapkanlah cara yang memberikan kemudahan dalam menghafal karena setiap orang memiliki potensi menghafal yang berbeda-beda dan memiliki keluangan waktu yang tidak sama. Tujuan dari metode itu adalah untuk mencapai hafalan yang baik.

E.     Langkah-langkah Dalam Memulai Menghafal Al-Qur’an
Adapun langkah-langkah menghafal Al-Qur’an itu adalah sabagai berikut:
1.      Mulailah dengan berwudhu dengan sempurna, kemudian shalatlah 2 rakaat, janganlah sampai melupakan kedua hal tersebut. Sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضُوْءَ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَايَسْهُوْ فِيْهِمَا، غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ  مِنْ ذَنْبِهِ.
Artinya: Rasulullah SAW. bersabda:” Barangsiapa yang berwudhu dan membaguskan wudhunya (menyempurnakannya) kemudian dia shalat 2 rakaat , dia tidak pernah melupakan keduanya maka Allah akan mengampuni dosanya yang terdahulu”
Kemudian berdo’alah kepada Allah untuk supaya diberikan kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an dan ditetapkan dihatimu.
Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الوُضُوْءَ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ بِتَمَامِهَا أَعْطَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَاسَأَلَ مُعَجِّلًا أَوْ مُؤَخِّرًا.
Artinya:”Barangsiapa yang berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian shalat 2 rakaat dengan sempurna niscaya Allah kan memberikan (mengabulkan) do’anya(apa yang dia minta) dengan segera ataupun ditangguhkan”.
2.      Memberi batasan berapa banyak hafalan yang akan dihafal setiap hari, dan membacanya dengan seksama. Bagi orang yang hendak mengahafal Al-Qur’an maka batasi berapa ayat perhari yang mesti dihafal kemudian membacanya dengan seksama, jangan sampai ada ayat yang salah sehingga hafalannya juga tidak salah. Ketika menghafal dan mengulang- ulangnya dengan dilagamkan / dilagukan supaya tidak bosan dan hafalan cepat masuk, sebab dengan lagu akan membuat seseorang senang untuk mendengarkannya, dan dapat membantu hafalan. sebagaimana hadits Nabi:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْاَنِ                                 
Artinya:”Bukan termasuk kelompok kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an”.                           
3.      Janganlah berpindah ke hafalan yang baru sebelum hafalan sebelumnya lancar/hafal dengan baik.
4.      Hendaklah orang yang menghafal Al-Qur’an menggunakan satu mushaf Al-Qur’an, jangan gonta-ganti mushaf.
5.      Memberikan tanda kepada bacaan yang sering salah ketika membacanya.
6.      Mengulang-ngulang hafalan di saat kita hendak berangkat ke mesjid atau berangkat sekolah atau pulang dari pekerjaan.
7.      Bacalah Al-Qur’an yang sudah dihafal dalam shalat, khusunya ketika shalat sendiri.
8.      Bacalah terlebih dahulu hafalan yang sudah dihafal 2 kali, tanpa melihat mushaf satu kali kemudian yang kedua kalinya dengan melihat mushaf, setelah itu pindah ke hafalan baru.
9.      Bangun malam hari kemudian shalat sunnah, bacalah surah yang sudah dihafal.
10.  Jadwalkan perminggu satu hari khusus untuk mengulang-ngulang hafalan yang sudah hafal, kalau sekira hafalannya masih belum kuat.
11.  Jadwalkan setiap bulan minimal satu hari untuk mengulang hafalan.
12.  Banyaklah membaca tentang keutamaan-keutamaan membaca dan menghafal Al-Qur’an supaya hati hati kita lebih semangat dan ikhlas dalam mengahafal Al-Qur’an.

F.     Keutamaan-keutamaan Menghafal Al-Qur’an
Diantara keutamaan-keutamaan dari mengahafal Al-Qur’an itu adalah sebagai berikut:
1.      Orang yang hafal Al-Qur’an itu termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berilmu. Sebagaimana firman Allah SWT. Dalam surat Al-Ankabut ayat 48-49:
وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ ﴿٤٨﴾ بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ (العنكبوت:٤٩)
Artinya:"Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur'an) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu). (48) Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu . Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim". ( 49)
2.      Hafal Al-Qur’an menjadi sumber keselamatan dunia dan akhirat. Hadits Nabi menjelaskan:
عن أبي الدرداء رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (( مَنْ حَفَظَ عَشْرَ آَيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الكَهْفِ عُصِمَ مِنْ الدَّجَّالِ )) . في رواية : ((من آخر سورة الكهف)
Artinya:”Dari Abu Darda RA. sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda:”Barangsiapa yang hafal 10 ayat awal dari surat Al-Kahfi niscaya dia akan dijaga dari  fitnah Dajjal”. Dalam riwayat lain: ( 10 akhir surat Al-Kahfi).
Ayat diatas, menjelaskan bahwa orang yang hafal 10 awal atau akhir dari surat Al-Kahfi akan diselamatkan dari fitnah yang terbesar di dunia yaitu fitnah Dajjal. Maka jelas orang yang menghafal Al-Qur’an akan selalu dijaga dan diselamatkan oleh Allah dari segala kejelekan-kejelakan manusia, Apalagi kalau sampai hafal Al-Qur’an 30 juz.
Orang hafal Al-Qur’an akan selamat dari api neraka. Sebagaimana hadits Nabi:لَوْ جَعَلَ القُرْآَنَ فِي إِهَابٍ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ مَا احْتَرَقَرواه أحمد . ويقول أبو أمامة : ( اِقْرَأُوْا القرآن وَلَا تَغَرَّنَكُمْ هَذِهِ المَصَاحِفُ المُعَلَّقَةُ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُعَذِّبُ قَلْبًا وعى القرآن.
Artinya:”Seandainya Al-Qur’an ini dibuat dari kulit kemudian dilemparkan (kulit tersebut) ke dalam api neraka niscaya tidak akan terbakar”.(H.R.Ahmad) dan Abu Umamah berkata:”Bacalah Al-Qur’an dan sungguh mushaf-mushaf Al-Qur’an yang menggantung pada hatimu tidak akan menipumu, karena Allah tidak akan menyiksa hati yang tersimpan di dalamnya ayat Al-Qur’an”.
3.      Orang yang hafal Al-Qur’an itu berada di barisan paling depan/paling dahulu di dunia dan akhirat. Sebagaimana hadits Nabi SAW. yang berbunyi:
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أَقْوَامًا ، وَيَضَعُ بِهِ آَخَرِيْنَ.)
Artinya:”Dari Umar bin Khattab R A., sesungguhnya Nabi SAW. bersabda:”Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an ini, dan merendahkan yang lainnya”.
4.      Orang yang hafal Al-Qur’an itu memperoleh derajat tinggi di syurga. Sesuai hadits Nabi SAW.:
عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما ، قال : قال رسول الله : (( يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرْآَنِ اِقْرَأ وَاَرَقُّ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا ، فَإِنْ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آَخِرَ آَيَةٍ تَقْرَؤُهَا ((.
Artinya:”Dari Abdullah bin ‘Amru bin Ash RA. berkata:”Rasulullah SAW. bersabda:”Dikatakan kepada orang yang hafal Al-Qur’an, bacalah Al-Qur’an! lembutkanlah!, dan bacalah dengan tartil, sebagaimna kamu melakukannya ketika di dunia, karena kedudukanmu (di akhirat) di akhir ayat yang kamu baca”.
Dalam hadits lain dijelaskan:
المَاهِرُ بِالقُرْآَنِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ القرآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌ ، لَهُ أَجْرَانِ.
Artinya:”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia (di syurga) dan orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata ketika membacanya, dan mengalami kesulitan maka baginya dua pahala”.
5.      Al-Qur’an akan memberikan syafaat di hari kiamat bagi orang yang membaca, menghafal dan mengamalkannya. Sebagaimana hadits Nabi:
اِقْرَأُوْا القُرْآَنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ شّفِيْعاً لِأَصْحَابِهِ.
Artinya:”Bacalah Al-Qur’an karena dia akan menjadi syafat (penolong) di hari kiamat bagi orang yang membacanya”.
6.      Orang yang hafal Al-Qur’an akan diletakkan diatas kepalanya mahkota kehormatan, dan kedua orang tuanya dipakaikan pakaian yang tidak ada di dunia. Dalam hadits dijelaskan:
 ... وَإِنَّ القُرْآَنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ القيامةِ – حِيْنَ يَنْشَقُّ عَنْهُ قَبْرَهُ – كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ ، فَيَقُوْلُ لَهُ : هَلْ تَعْرِفُنِي ؟ فيقول : مَا أَعْرِفُكَ . فيقول له : هَلْ تَعْرِفُنِي ؟ فيقول : مَا أَعْرِفُكَ . فيقول : أَنَا صَاحِبُكَ القُرْآَنُ ، الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الهَوَاجِرِ ، وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ . وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ ، وَإِنَّكَ اليَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارّةٍ . فَيُعْطِى المُلْكَ بِيَمِيْنِهِ ، واَلخُلْدَ بِشِمَالِهِ ، وَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الوِقَارِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا يَقُوْمُ لَهُمَا أَهْلُ الدُّنْيَا ، فيقولان: بمِاَ كَسَيْنَا هَذِهَ ؟ فيقال : بِأَخْذِ وَلِدِكُمَا القُرْآن . ثم يقال له : اِقْرَأْ ، وَاصْعَدْ فِي دَرَجَةِ الجَنَّةِ وَغُرَفِهَا ، فَهُوَ فِي صُعُوْد مَا دَامَ يَقْرَأُ هَذَا كَانَ أَوْ تَرْتِيْلاً((
Artinya: … dan sesungguhnya Al-Qur’an akan menemui orang yang membacanya pada hari kiamat – ketika itu kuburannya dicium – seperti orang yang pucat, kemudian Al-Qur’an itu berkata kepadanya: “Apakah kamu mengenaliku?” Dia menjawab:” Aku tidak mengenalimu”. Kemudian bertanya lagi kepadanya:” Apakah kamu mengenaliku?”. Dia menejawab lagi:”Aku tidak mengenalimu”. Lalu Al-Qur’an itu berkata:”Aku temanmu, Al-Qur’an, yang membuatmu haus pada siang hari, dan membuatmu tidak tidur malam, dan sesungguhnya setiap pedagang di belakang dagangannya, dan hari ini kamu  berada di belakang setiap dagangan, di berikan kerajaan di sebelah kanannya, kehidupan kekal di sebelah kirinya, diletakkan diatas kepalanya mahkota kehormatan, dan dipakaikan kedua orang tuanya pakaian yang tidak ada di dunia. Kemudian kedua orang tuanya berkata:”Kenapa kami memakai pakaian ini?” dikatakan kepada keduanya:” Karena anakmu yang selalu mengambil Al-Qur’an untuk dibaca, dan dikatakan kepadanya:”Bacalah! Dan naiklah sampai kedudukan yang tinggi di syurga, yaitu berada diatas selama kamu membacanya dengan tartil”.
7.      Orang yang hafal Al-Qur’an menikah tanpa maskawin (maskawinnya Al-Qur’an). sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سِعْدٍ السَّاعِدِي  قَالَ : جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ جِئْتُ أَهَبُ لَكَ نَفْسِيْ. فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُوْلُ اللهِ صلىَ الله عليه وسلَم فَصَعَدَ النَّظْرَ فِيْهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَأْسَهُ فَلَمَّا رَأَتِ المَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيْهَا شَيْئًا جَلَسَتْ . فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ يَا رسولَ اللهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيْهَا . قَالَ : فَهَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ ؟ فَقَالَ لَا وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَقَالَ اِذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا ؟ فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لاَ وَاللهِ مَا وَجَدْتُ شَيْئًا . فَقَاَل رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اُنْظُرْ وَلَوْ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ . فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ : لَا وَاللهِ يا رسول الله وَلَا خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ ، وَلَكِنْ هَذاَ إِزَارِيْ [قَالَ سَهَل : مَالَهُ رِدَاءٌ ] فَلَهَا نِصْفُهُ . فَقَالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم : وَمَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ ، وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ مِنْهُ شَيْءٌ فَجَلَسَ الرَّجُلُ حَتَّى إِذَا طَالَ مَجْلِسَهُ قَامَ ؟ فَرَآهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُوَلِّيًا فَأَمَرَ بِهِ فَدُعِيَ فَلَمَّا جَاءَ قَالَ : مَاذَا مَعَكَ مِنَ القُرْآَنِ ؟ قَالَ : مَعِيْ سُوْرَةُ كَذَا وَسُوْرَةُ كَذَا وَعَدَدُهَا . فقال : تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ . قَالَ : نَعَمْ. قَالَ اِذْهَبْ فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ )) وَفِي رِوَايَةٍ ( اِذْهَبْ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا فَعَلِّمْهَا مِنَ القُرَآن
Artinya:” Dari Sahal bin Sa’ad As-Saa’idi berkata:”Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW. lalu dia berkata:”Ya Rasul aku datang menyerahkan diriku kepadamu, kemudian Rasul memperhatikannya, dan menaikkan pandangannya, lalu beliau menundukkan kepalanya, ketika wanita itu memperhatikan bahwa beliau tidak memutuskan apa-apa, dia langsung duduk. Kemudian berdiri seorang laki-laki dari sahabat beliau seraya berkata: apabila engkau tidak ada keinginan kepada wanita tersebut maka nikahkanlah aku dengannya! Lalu Rasul bertanya:”Apakah kamu mempunyai sesuatu (untuk maskawin)?”. Dia menjawab:”Demi Allah aku tidak punya apa-apa”. Lalu beliau menyuruh untuk pergi ke keluarganya, apakah keluarganya mempunyai sesuatu? kemudian dia pergi, tidak lam kemudian kembali dan berkata: saya tidak menemukan apa-apa. Beliau berkata: coba lihat lagi, walaupun hanya cincin besi? Lalu dia pergi lagi dan segera kembali seraya berkata: demi Allah ya Rasul tidak aku ketemukan sesuatu apapun. Tetapi aku hanya punya sarung. Sarung ini dibagi dua dengannya. Lalu beliau berkata:”Apa yang kamu pakai kalau sarung itu dipakai olehnya kamu tidak mempunyai apa-apa? Kemudian laki-laki itu duduk lama lalu berdiri lagi. Rasul memanggilnya, kemudian dia menghampiri beliau, lalu beliau berkata:”Apa yang kamu hafal dari Al-Qur’an?”. Saya hafal surat…. Sampai ayat…..kemudian beliau berkata:”Bacalah ayat tersebut dengan dihafal!” Beliau menjawab:”Ya Rasul”. Beliau berkata lagi:”Pergilah bersama wanita itu, aku telah menikahkannya dengan kamu bersama maskawin bacaan Al-Qur’an yang kamu hafal”. Dalam riwayat lain:”Pergilah dengan wanita itu! lalu ajarkanlah dia Al-Qur’an”.
8.      Menolong ilmu dengan menghafalnya. Jadi, orang yang hafal Al-Qur’an itu orang yang memuliakan ilmu Al-Qur’an, maka Allah Akan meninggikan derajatnya sebagaimana orang-orang yang berilmu. Sebagaimana firman Allah SWT.:
يرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ...(المجادلة:١١)
9.      Hafal Al-Qur’an akan menguatkan ingatan. Allah berfirman:
قال تعالى : وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ )البقرة: ٢٨٢)
10.  Orang yang hafal Al-Qur’an dapat dibedakan dari Akhlak dan budi pekertinya.
11.  Hafal Al-Qur’an dapat meluruskan lidah, membuat lidah fasih dalam berbicara. karena Al-Qur’an ini kitab Allah yang paling balaghoh.
12.  Menghafal Al-Qur’an itu meneladani Rasulullah SAW.
13.  Meneladani Ulama salaf.
14.  Hafalan Al-Qur’an akan memberikan kemudahan bagi semua orang.
15.  Orang yang hafal Al-Qur’an akan diberikan kemudahan untuk mencapai kesuksesan oleh Allah SWT.
16.  Orang yang hafal Al-Qur’an itu termasuk Ahlullah (keluarga Allah).
17.  Orang yang Hafal Al-Qur’an itu berhak mendapatkan kemulian dari Allah.
18.  Tidak dikatakan iri kepada orang yang hafal Al-Qur’an, akan tetapi ghibtoh .
19.  Orang yang hafal dan mempelajari Al-Qur’an itu lebih baik dari perhiasan dunia.
20.  Orang yang hafal Al-Quran yaitu orang yang paling banyak membaca Al-Qur’an, maka otomatis banyak pahala yang ia peroleh.
21.  Orang yang hafal Al-Quran selalu membacanya setiap saat.
22.  Orang yang hafal Al-Quran tidak akan kesulitan untuk berbicara, berceramah dan belajar. Karena lidahnya sudah terbiasa mengucapkan Al-Qur’an dan selalu ada dalam hatinya.

G.    Shalat Sunnah Untuk Menguatkan Hafalan Al-Qur’an
Diriwayatkan dari sebuah hadits yang diterima dari Ibnu Abbas RA. Beliau berkata: “ Sewaktu kami bersama Rasulullah Saw di suatu majlis tiba-tiba datang Ali bin Abi Thalib lalu berkata kepada Rasulullah:” hafalan Al-Qur’an telah hilang dari ingatanku”. Bagaimana supaya hafalanku jadi kuat? Kemudian Rasulullah Saw berkata kepadanya:” Hai bapak hasan! Maukah aku ajarkan/beritahukan kepadamu satu amalan/do’a yang dapat bermanfaat bagimu dan bagi orang yang engkau ajarkan dan akan selalu ingat/ selalu menetap dihatimu apa yang engkau pelajari/hafal ? lalu sayyidina Ali menjawab:” Ya. Mau ya Rasul”. Beliau berkata:” Apabila datang malam jum’at maka bangunlah pada sepertiga malam kalau sanggup karena pada waktu tersebut merupakan maqom ijabah doa sebagaimana yang dikatakan Nabi Ya’kub kepada anaknya;” Tuhanmu akan mengampuni dosamu”. Kalau tidak mampu pada waktu tersebut maka bangunlah pada pertengahan malam, kalau tidak mampu juga maka sesudah shalat isya lakukanlah shalat 4 rakaat (boleh satu kali salam/ didua kali salamkan), bacalah pada rakaat pertama sesudah Al-Fatihah surah Alif lamim sajdah, pada rakaat kedua sesudah Al-Fatihah baca surah Yasin, pada rakaat ketiga sesudah Al-Fatihah baca surah Ad-Dukhon dan pada rakaat ke-empat sesudah Al-Fatihah baca surah Al-Mulk. Sesudah selesai shalat maka bacalah istigfar, tahmid dan shalawat atas Nabi Muhammad Saw kemudian diakhiri dengan doa sebagai berikut:
"اللّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ المْعَاَصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِيْ وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَالَايَعْنِيْنِي وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظْرِ فِيْمَا يُرْضِيْكَ عَنِّي اللّهُمَّ بَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَاتُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ يَا رَحْمنُ بِجَلَالِكَ وَنُوْرِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الّذِي يُرْضِيْكَ عَنّيِ اللّهُمَّ بَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ وَ الْعِزَّةِ الَّتِي لَاتُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا الله يارحمن بجلالك ونوروجهك أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِيْ وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِيْ وَأَنْ تَسْتَعْمِلَ بِهِ بَدَنِي وَتُقَوِّيَنِي على ذلك وَتُعِيْنُنِي على ذلك فَإِنَّهُ لَايُعِيْنُنِي عَلَى الْخيرغَيْرُكَ وَلَايُوَفِّقُ لَهُ إِلَّا أَنْتَ وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِالله الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ."
Artinya:”Ya Allah berikanlah rahmat-Mu padaku supaya  aku terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat yang Engkau tetapkan padaku selamanya, berikanlah rahmat-Mu padaku supaya aku dapat menjalani segala kewajibanku sekemampuanku, berikanlah aku penglihatan yang bagus untuk melihat sesuatu yang Engkau ridhoi. Ya Allah Tuhan pencipta langit dan bumi pemilik segala keagungan, kemuliaan dan keperkasaan yang tiada tandingan, aku memohon kepada-Mu ya Allah yang maha pengasih, dengan keagungan-mu dan cahaya-Mu tetapkanlah hatiku untuk dapat menghapal Al-Qur’an sebagaimana yang telah Engkau ajarkan padaku. Berikanlah kepadaku kemampuan untuk dapat menbaca Al-Qur’an yang Engkau ridhoi. Ya Allah Tuhan pencipta langit dan bumi pemilik segala keagungan, kemuliaan dan keperkasaan yang tiada tandingan, aku memohon kepada-Mu ya Allah yang maha pengasih, dengan keagungan-mu dan cahaya-Mu berikanlah cahaya-Mu kepada penglihatanku dengan berkah membaca Al-Qur’an, dan lancarkanlah lidahku dalam membacanya, lapangkanlah hatiku,sehatkanlah badanku dan berikanlah kekuatan kepadaku (untuk dapat menghafalnya). Sesungguhnya tiada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk kepada kebaikan kepadaku kecuali Engkau dan tiada seorangpun yang dapat memberikan taufik kecuali Engkau dan tiada daya dan upaya kecuali dengan kuasamu yang maha tinngi dan maha agung.”

Hai bapak Hasan! Lakukanlah shalat tersebut 3 kali, 5 kali atau sampai 7 kali insyaallah dengan izin Allah doamu akan diijabah/hafalanmu kan mantap dan kamu tidak akan banyak lupa sama sekali. Kemudian setelah sayyidina Ali melakukannya selama 7 kali jum’at beliau menemui Nabi Saw. untuk menyetor hafalan Al-Qur’an dan hadits kepadanya.
Dari hadits diatas, maka tata cara shalat untuk menguatkan hafalan Al-Qur’an itu adalah sebagai berikut:
1)      Waktu shalat: Malam jum’at, lebih utama dilakukan pada seperdua malam tapi jika tidak mampu boleh lebih awal setelah shalat isya atau lebih akhir sebelum shalat shubuh.
2)      Niat shalat :
أُصَلِّي سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِتَقْوِيَّةِ الِحفْظِ ركعَتَيْنِ(مأموما) لِلَّهِ تَعَالَى......
3)      Jumlah rakaat: 4 rakaat boleh di satu kali salam atau didua kali salamkan.
4)      Bacaan sesudah salam/shalat:
·         سُبْحَانَ الله وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اكْبَر.....(sebanyak-banyaknya)
·         اللّهمّ صَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ وَجَمِيْعِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْن....sebanyak-banyaknya
·         اللّهُمَّ اغْفِرْلِي وَلِلْمُؤْمِنِيْنِ وَالمؤْمِنَاتِ وَالمسْلِمِيْنَ والمُسْلِمَاتِ وَجَمِيْعِ إِخْوَانِي الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالِإْيَمانِ....sebanyak-banyaknya))
Do’a yang dibaca yaitu do’a yang telah disebutkan dalam hadits diatas .

H.    Do’a Khotmil Qur’an
اللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا خَتْمَ القُرْاَنِ وَتَجَاوَزْ عَمَّا كَانَ مِنَّا فِي تِلَاوَتِهِ مِنْ خَطَإٍ اَوْنِسْيَانٍ اَوْتَحْرِيْفِ كَلِمَةٍ عَنْ مَوَاضِعِهَا اَوْتَغْيِيْرِ حَرْفٍ اَوْ تَقْدِيْمٍ اَوْ تَأْخِيْرٍ اَوْ زِيَادَةٍ اَوْنُقْصَانٍ اَوْتَأْوِيْلٍ عَلىَ غَيْرِ مَاأَنْزَلْتَهُ اَوْرَيْبٍ اَوْشَكٍّ اَوْتَعْجِيْلٍ عِنْدَ تِلَاوَتِهِ اَوْكَسَلٍ اَوْسُرْعَةٍ اَوْزَيْغِ لِسَانٍ اَوْ وُقُوْفٍ بِغَيْرِ وَقْفٍ اَوْ إِدْغَامٍ بِغَيْرِ مُدْغَمٍ اَوْإِظْهَارٍ بِغَيْرِ بَيَانٍ اَوْ مَدٍّ اَوْ تَشْدِيْدٍ اَوْهَمْزٍ اَوْ جَزْمٍ اَوْإِعْرَاٍب بِغَيْرِ مَكَاٍن، فَاكْتُبْهُ مِنَّا عَلَى التَّمَامِ وَ الكَمَالِ وَالمُهَذَّبِ مِنْ كُلِّ اَلْحَانٍ. فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا يَا رَبَّاهُ وَيَا سَيِّدَاهُ وَلَاتُؤَاخِذْنَا يَا مَوْلَانَا وَارْزُقْنَا فَضْلَ مَنْ قَرَاَهُ مُؤِّدًيا حَقَّهُ مَعَ الأَعْضَاءِ وَالقَلْبِ وَ الِّلسَانِ. وَهَبْ لَنَا بِهِ الخَيْرَ وَالسَّعَادَةَ وَالبِشَارَةَ وَالأَمَانَ، وَلَاتَخْتِمْ لَنَا بَالشَّرِّ وَالشَّقَاوَةِ وَالضَّلاَلَةِ وَالطُّغْيَانِ وَنَبِّهْنَا قَبْلَ المَنَايَا مِنْ نَوْمَةِ الغَفْلَةِ وَالكَسَلاَنِ وَأَمِنَّا مِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ سُؤَالِ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ وَمِنْ أَكْلِ الدِّيْدَانِ، وَبَيِّضْ وُجُوْهَنَا يَوْمَ البَعْثِ وَأَعْتِقْ رِقَابَنَا مِنَ النِّيْرَانِ وَيَمِّنْ كِتَابَنَا وَيَسِّرْ حِسَابَنَا وَثَقِّلْ مِيْزَانَنَا بِالْحَسَنَاتِ وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا عَلَى الصِّراَطِ وَأَسْكِنَّا فِيْ وَسَطِ الِجنَانِ وَارْزُقْنَا جِوَارَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَأَكْرِمْنَا بِلِقَائِكَ يَادَيَّان. إِسْتَجِبْ دُعَاءَنَا بِحَقِّ التَّوْرَاِةِ وَالِإنْجِيْلِ وَالزَّبُوْرِ وَالفُرْقَانِ وَأَعْطِنَا جَمْيِعَ مَا سَأَلْنَاكَ بِهِ فِي السِّرِّ وَالْإِعْلَانِ وَزِدْنَا مِنْ فَضْلِكَ الوَاسِعِ بِجُوْدِكَ وَكَرَامِكَ يَاأَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ. الَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الشَّرِيْعَةِ وَالبُرْهَانِ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن. الَّلهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ القُرْاِنِ وَاكْسُنَا بِخِلْعَةِ القُرْانِ وَاهْدِنَا بِهِدَايَةِ القُرْاَنِ وَاخْتِمْ لَنَا بِتِلَاوَةَ القُرْاَنِ وَنَوِّرْ قُبُوْرَنَا بِنُوْرِ القُرْاَنِ وَاخْشُرْنَا مَعَ أَهْلِ القُرْاَنِ وَنَجِّنَا مِنَ النَّاِر بِشَفَاعَةَ القُرْاَنَ وَأَدْخِلْنَا الجَنَّةَ بِكَرَامَةِ القُرْاَنِ وَارْفَعْ دَرَجَاتِنَا بِفَضِيْلَةِ القُرْاَنِ وَعَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلاَءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الأَخِرَةِ بِحُرْمَةِ القُرْاَنِ يَاذَاالفَضْلِ وَالِإحْسَانِ. الَّلهُمَّ اجْعَلِ القُرْاَنَ لَنَا فِي الدُّنْيَا قَرِيْنًا وَفِي القَبْرِ مُوْنِسًا وَفِي القِيَامَةِ شَافِعًا وَفِي الجَنَّةِ رَفِيْقًا وَمِنَ النَّارِ سِتْرًا وَحِجَابًا وَ اِلىَ الخَيْرَاتِ كُلِّهَا دَلِيْلاً وَإِمَامًا. اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالقُرْاَنِ وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْه مَا نَسِيْنَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ أَنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَارَبَّ العَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ اهْدِنَا بِهِدَايَةِ القُرْاَنِ وَنَجِّنَا مِنَ النَّارِ بِحُرْمَةِ القُرْاَنِ وَيَسِّرْ عَلَيْنَا أُمُوْرَنَا أُمُوْرَ الدُّنَيَا وَالأَخِرَةِ، رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ يَاإِلَهَ العَالَمِيْنَ. الَّلهُمَّ انْصُرْ سُلْطَانَنَا إِمَامَ المُسْلِمِيْنَ نَصْرًا عَزِيْزًا دَائِمًا وَاجْعَلْ عُلَمَاءَهُ وَوُزَرَاءَهُ بِالقُرْاَنِ العَظِيْمِ وَلَاتَجْعَلْ لِلْكَافِرِيْنَ عَلَى المُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلاً الَّلهُمَّ قَهِّرْ أَعْدَاءَناَ وَأَعْدَاءَ الدِّيْنَ اللَّهُمَّ انْصُرْ جُيُوْشَ المُؤْمِنِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ.
الَّلهُمَّ بَلِّغْ وَأَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ وَنُوْرَ مَا تَلَوْنَهُ مِنَ القُرْانِ العَظِيْمِ هَدِيَّةً وَاصِلَةً عَلَى سِيِّدِ المُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الأَمِيْنِ وَاِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعَ إِخْوَاِنِه مِنَ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَجَمِيْعِ المَلاَئِكَة وَالمُقَرَّبِيْنَ وَاِلَى جَمِيْعِ اَلِهِ وَاَوْلَادِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ اَجْمَعِيْنَ وَجَمِيْعِ العُلَمَاءِ العَامِليْن وَالفُقَهَاءِ وَالمُحَدِّثِيْنَ وَالقُرَّاءِ وَالمُفَسِّرِيْنَ وَجَمِيْعِ أَوْلِيَاءِ اللهِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالمُصَنِّفِيْنَ وَالمَؤَلِفِيْنَ المُخْلِصِيْنَ وَالحُجَّاجِ وَالمُسَافِرِيْن وَالغُزَاةِ وَالمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ثُمَّ نَخُصُّ خُصُوْصًا اِلَى رُوْحِ.....الَّلهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَاَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهِ، وَاِنَّهُ فَقِيْرٌ اِلَى رَحْمَتِكَ وَاَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ مُؤَاخِذَتِهِ اللُّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ ....ثُمَّ اِلَى أَرْوَاحِ اُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَاَهْلِ بَيْتِهِمْ وَاِلَى اَرْوَاحِ اَبَائِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاِخْوَانِنَا وَاَخَوَاتِنَا وَاَعْمَامِنَا وَعَمَّاتِنَا وَاَخْوَالِنَا وَخَالَاتِنَا وَاِلَى رُوْحِ مَنْ عَلَّمَنَا وَاَحْسَنَ اِلَيْنَاوَاِلَى اَرْوَاحِ جَمِيْعِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ عَامَّةً اَجْمَعِيْنَ يَارَبَّ العَالمَيِن اِسْتَجِبْ دُعَاءَنَا بِحَقِّ مَنْ اَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ أَسْعَدِ وَأَشْرَفِ نُوْرِ جَمِيْعِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلىَ المُرْسَلِيْنَ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ...اًمٍيْن 






Untuk pemesanan Al-Quranku bisa langsung ke http://alquranku.com/

atau menghubungi customer service kami di no 021 314 0808 atau 081617200300

Adab Membaca Al-Quran

Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam“Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:
1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.
Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)
2. Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.
Rosululloh bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)
Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.
3. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.
Alloh Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra': 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.
4. Membaguskan suara ketika membacanya.
Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.
5. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’.
Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).”(HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). Wallohu a’lam.

Sumber : http://muslim.or.id/al-quran/adab-membaca-al-quran.html


Untuk pemesanan Al-Quranku bisa langsung ke http://alquranku.com/

atau menghubungi customer service kami di no 021 314 0808 atau 081617200300

Kaidah Ilmu Tajwid

Tajwīd (تجويد) secara harfiah bermakna melakukan sesuatu dengan elok dan indah atau bagus dan membaguskan, [1] tajwid berasal dari kata Jawwada (جوّد-يجوّد-تجويدا) dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci al-Quran maupun bukan.
Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf (tempat keluar-masuk huruf) [2], shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.
Pengertian lain dari ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari tiap-tiap bacaan ayat al-Quran. Para ulama menyatakan bahwa hukum bagi mempelajari tajwid itu adalah fardhu kifayah tetapi mengamalkan tajwid ketika membaca al-Quran adalah fardhu ain atau wajib kepada lelaki dan perempuan yang mukallaf atau dewasa.

Dalil tentang tajwid

Adapun dalil dalil yang mewajibkan membaca al-Quran dengan tajwid antara lain:
  1. ada pun dalil yang pertama di ambil dari al-Quran. Allah swt berfirman yang artinya “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil (bertajwid)”[QS:Al-Muzzammil (73): 4]. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca al-Quran yang diturunkan kepadanya dengan tartil, yaitu memperindah pengucapan setiap huruf-hurufnya (bertajwid).
  2. yang kedua dalil as sunah ( hadist ). Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah r.a.(istri Nabi SAW), ketika beliau ditanya tentang bagaiman bacaan dan salat Rasulullah SAW, maka beliau menjawab: ”Ketahuilah bahwa Baginda s.a.w. salat kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau salat tadi, kemudian Baginda kembali salat yang lamanya sama seperti ketika beliau tidur tadi, kemudian tidur lagi yang lamanya sama seperti ketika beliau salat tadi hingga menjelang shubuh. Kemudian dia (Ummu Salamah) mencontohkan cara bacaan Rasulullah s.a.w. dengan menunjukkan (satu) bacaan yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu persatu.” (Hadits 2847 Jamik At-Tirmizi).
  3. yang ketiga adalah dalil ijma ulama. adalah telah sepakat para ulama dari zaman rasulullah sampai zaman sekarang, bahwa membaca alqur’an dengan bertajwid adalah sesuatu yang fardhu dan wajib.

Hukum taawuz dan basmalah

Isti'azah atau taawuz (تعوذ) adalah lafaz: "A'uzubillahi minasy syaitaanir rajiim" (ﺍﻋﻮﺬ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ الشيطان ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ)
manakala basmalah adalah lafaz: "Bismillahir rahmaanir rahiim" (ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺤﻤﻦ ﺍﻟﺮﺤﻴﻢ).
Terdapat empat cara membaca iati'azah, basmalah dan surat:
  1. memutuskan isti'azah (berhenti) kemudian baru membaca basmalah,
  2. menyambungkan basmalah dengan surah tanpa berhenti,
  3. membaca isti'azah dan basmalah terus-menerus tanpa henti,
  4. membaca isti'azah, basmalah dan awal surat terus-menerus tanpa berhenti.
Terdapat empat cara membaca basmalah di antara dua surat. Tiga daripadanya adalah harus dan satu lagi adalah tidak harus. Yang harus adalah:
  1. memisahkan basmalah dengan surat,
  2. menghubungkan basmalah dengan awal surat,
  3. menghubungkan kesemuanya.
Bacaan bagi yang tidak harus pula adalah:
  1. menghubungkan akhir surat dengan basmalah lalu berhenti. Kemudian, barulah membaca surat yang seterusnya tanpa basmalah. Walau bagaimana pun, tidak harus membaca demikian karena ditakuti bahwa ada yang menganggap basmalah adalah salah satu ayat daripada surat yang sebelumnya.

Hukum nun mati dan tanwin

Hukum mim mati

Hukum mim dan nun tasydid

Hukum mim dan nun tasydid juga disebut sebagai wajibal ghunnah (ﻭﺍﺟﺐ ﺍﻟﻐﻨﻪ) yang bermakna bahwa pembaca wajib untuk mendengungkan bacaan. Maka jelaslah yang bacaan bagi kedua-duanya adalah didengungkan. Hukum ini berlaku bagi setiap huruf mim dan nun yang memiliki tanda syadda atau bertasydid (ﻡّ dan نّ).
Contoh: ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠِﻨﱠﺔ ﻭَﺍﻟﻨﱠﺎﺱِ

Hukum alif lam ma'rifah

Alif lam ma'rifah adalah dua huruf yang ditambah pada pangkal/awal dari kata yang bermakna nama atau isim .Terdapat dua jenis alif lam ma'rifah yaitu qamariah dan syamsiah.
Alif lam qamariah ialah lam yang diikuti oleh 14 huruf hijaiah, seperti: alif/hamzah(ء), ba' (ب), jim (ج), ha' (ح), kha' (خ), 'ain (ع), ghain (غ), fa' (ف), qaf (ق), kaf (ك), mim (م), wau (و), ha' () dan ya' (ي). Hukum alif lam qamariah diambil dari bahasa arab yaitu al-qamar (ﺍﻟﻘﻤﺮ) yang artinya adalah bulan. Maka dari itu, cara membaca alif lam ini adalah dibacakan secara jelas tanpa meleburkan bacaannya.
Alif lam syamsiah ialah lam yang diikuti oleh 14 huruf hijaiah seperti: ta' (ت), tha' (ث), dal (د), dzal (ذ), ra' (ر), zai (ز), sin (س), syin (ش), sod (ص), dhod (ض), tho (ط), zho (ظ), lam (ل) dan nun (ن). Nama asy-syamsiah diambil dari bahasa Arab (ﺍﻟﺸﻤﺴﻴﻪ) yang artinya adalah matahari. Maka dari itu, cara membaca alif lam ini tidak dibacakan melainkan dileburkan kepada huruf setelahnya.

Lihat pula

Hukum idgham

Idgham (ﺇﺩﻏﺎﻡ) adalah berpadu atau bercampur antara dua huruf atau memasukkan satu huruf ke dalam huruf yang lain. Maka dari itu, bacaan idgham harus dilafazkan dengan cara meleburkan suatu huruf kepada huruf setelahnya. Terdapat tiga jenis idgham:
  1. Idgham mutamathilain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﻤﺎﺛﻠﻴﻦ - yang serupa) ialah pertemuan antara dua huruf yang sama sifat dan makhrajnya (tempat keluarnya) dal bertemu dal dan sebagainya. Hukum adalah wajib diidghamkan. Contoh: ﻗَﺪ ﺩَﺨَﻠُﻮاْ.
  2. Idgham mutaqaribain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﻘﺎﺭﺑﻴﻦ - yang hampir) ialah pertemuan dua huruf yang sifat dan makhrajnya hampir sama, seperti ba' bertemu mim, qaf bertemu kaf dan tha' bertemu dzal. Contoh: ﻧَﺨْﻠُﻘڪُﻢْ
  3. Idgham mutajanisain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﺠﺎﻧﺴﻴﻦ - yang sejenis) ialah pertemuan antara dua huruf yang sama makhrajnya tetapi tidak sama sifatnya seperti ta' dan tha, lam dan ra' serta dzal dan zha. Contoh: ﻗُﻞ ﺭَﺏﱢ

Hukum mad

Mad berarti melanjutkan atau melebihkan. Dari segi istilah ulama tajwid dan ahli bacaan, mad bermakna memanjangkan suara dengan lanjutan menurut kedudukan salah satu dari huruf mad. Terdapat dua bagian mad, yaitu mad asli dan mad far'i. Terdapat tiga huruf mad yaitu alif, wau, dan ya' dan huruf tersebut haruslah berbaris mati atau saktah. Panjang pendeknya bacaan mad diukur dengan menggunakan harakat.
Lihat juga: Hukum mad, Harakat.

Hukum ra'

Hukum ra' adalah hukum bagaimana membunyikan huruf ra' dalam bacaan. Terdapat tiga cara yaitu kasar atau tebal, halus atau tipis, atau harus dikasarkan dan ditipiskan.
Bacaan ra' harus dikasarkan apabila:
  • Setiap ra' yang berharakat atas atau fathah.
Contoh: ﺭَﺑﱢﻨَﺎ
  • Setiap ra' yang berbaris mati atau berharakat sukun dan huruf sebelumnya berbaris atas atau fathah.
Contoh: ﻭَﺍﻻَﺭْﺽ
  • Ra' berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris bawah atau kasrah.
Contoh: ٱﺭْﺟِﻌُﻮْﺍ
  • Ra' berbaris mati dan sebelumnya huruf yang berbaris bawah atau kasrah tetapi ra' tadi berjumpa dengan huruf isti'la'.
Contoh: ﻣِﺮْﺻَﺎﺪ
Bacaan ra' yang ditipiskan adalah apabila:
  • Setiap ra' yang berbaris bawah atau kasrah.
Contoh: ﺭِﺟَﺎﻝٌ
  • Setiap ra' yang sebelumnya terdapat mad lain
Contoh: ﺧَﻴْﺮٌ
  • Ra' mati yang sebelumnya juga huruf berbaris bawah atau kasrah tetapi tidak berjumpa dengan huruf isti'la'.
Contoh: ﻓِﺮْﻋَﻮﻦَ
Bacaan ra' yang harus dikasarkan dan ditipiskan adalah apabila setiap ra' yang berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris bawah dan kemudian berjumpa dengan salah satu huruf isti'la'.
Contoh: ﻓِﺮْﻕ


    • Isti'la' (ﺍﺳﺘﻌﻼ ﺀ): terdapat tujuh huruf yaitu kha (خ), ghain (غ), shad (ص), dhad (ض), tha (ط), qaf (ق), dan zha (ظ).

Qalqalah

Qalqalah (ﻗﻠﻘﻠﻪ) adalah bacaan pada huruf-huruf qalqalah dengan bunyi seakan-akan berdetik atau memantul. Huruf qalqalah ada lima yaitu qaf (ق), tha (ط), ba' (ب), jim (ج), dan dal (د). Qalqalah terbagi menjadi dua jenis:
  • Qalqalah kecil yaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu berbaris mati dan baris matinya adalah asli karena harakat sukun dan bukan karena waqaf.
Contoh: ﻴَﻄْﻤَﻌُﻮﻥَ, ﻴَﺪْﻋُﻮﻥَ
  • Qalqalah besar yaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu dimatikan karena waqaf atau berhenti. Dalam keadaan ini, qalqalah dilakukan apabila bacaan diwaqafkan tetapi tidak diqalqalahkan apabila bacaan diteruskan.
Contoh: ٱﻟْﻔَﻟَﻖِ, ﻋَﻟَﻖٍ

Makhraj huruf

Sifat huruf

Waqaf (وقف)

Waqaf dari sudut bahasa ialah berhenti atau menahan, manakala dari sudut istilah tajwid ialah menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernapas dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan. Terdapat empat jenis waqaf yaitu:
  • ﺗﺂﻡّ (taamm) - waqaf sempurna - yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan yang dibaca secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, dan tidak memengaruhi arti dan makna dari bacaan karena tidak memiliki kaitan dengan bacaan atau ayat yang sebelumnya maupun yang sesudahnya;
  • ﻛﺎﻒ (kaaf) - waqaf memadai - yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, namun ayat tersebut masih berkaitan makna dan arti dari ayat sesudahnya;
  • ﺣﺴﻦ (Hasan) - waqaf baik - yaitu mewaqafkan bacaan atau ayat tanpa memengaruhi makna atau arti, namun bacaan tersebut masih berkaitan dengan bacaan sesudahnya;
  • ﻗﺒﻴﺢ (Qabiih) - waqaf buruk - yaitu mewaqafkan atau memberhentikan bacaan secara tidak sempurna atau memberhentikan bacaan di tengah-tengah ayat, wakaf ini harus dihindari karena bacaan yang diwaqafkan masih berkaitan lafaz dan maknanya dengan bacaan yang lain.

Tanda-tanda waqaf

  1. Tanda mim ( مـ ) disebut juga dengan Waqaf Lazim. yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna. Wakaf Lazim disebut juga Wakaf Taamm (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim ( م ), memiliki kemiripan dengan tanda tajwid iqlab, namun sangat jauh berbeda dengan fungsi dan maksudnya;
  2. tanda tho ( ) adalah tanda Waqaf Mutlaq dan haruslah berhenti.
  3. tanda jim ( ) adalah Waqaf Jaiz. Lebih baik berhenti seketika di sini walaupun diperbolehkan juga untuk tidak berhenti.
  4. tanda zha ( ) bermaksud lebih baik tidak berhenti;
  5. tanda sad ( ) disebut juga dengan Waqaf Murakhkhas, menunjukkan bahwa lebih baik untuk tidak berhenti namun diperbolehkan berhenti saat darurat tanpa mengubah makna. Perbedaan antara hukum tanda zha dan sad adalah pada fungsinya, dalam kata lain lebih diperbolehkan berhenti pada waqaf sad;
  6. tanda sad-lam-ya' ( ﺻﻠﮯ ) merupakan singkatan dari "Al-washl Awlaa" yang bermakna "wasal atau meneruskan bacaan adalah lebih baik", maka dari itu meneruskan bacaan tanpa mewaqafkannya adalah lebih baik;
  7. tanda qaf ( ) merupakan singkatan dari "Qiila alayhil waqf" yang bermakna "telah dinyatakan boleh berhenti pada wakaf sebelumnya", maka dari itu lebih baik meneruskan bacaan walaupun boleh diwaqafkan;
  8. tanda sad-lam ( ﺼﻞ ) merupakan singkatan dari "Qad yuushalu" yang bermakna "kadang kala boleh diwasalkan", maka dari itu lebih baik berhenti walau kadang kala boleh diwasalkan;
  9. tanda Qif ( ﻗﻴﻒ ) bermaksud berhenti! yakni lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda tersebut biasanya muncul pada kalimat yang biasanya pembaca akan meneruskannya tanpa berhenti;
  10. tanda sin ( س ) atau tanda Saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ) menandakan berhenti seketika tanpa mengambil napas. Dengan kata lain, pembaca haruslah berhenti seketika tanpa mengambil napas baru untuk meneruskan bacaan;
  11. tanda Waqfah ( ﻭﻗﻔﻪ ) bermaksud sama seperti waqaf saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ), namun harus berhenti lebih lama tanpa mengambil napas;
  12. tanda Laa ( ) bermaksud "Jangan berhenti!". Tanda ini muncul kadang-kala pada penghujung mahupun pertengahan ayat. Jika ia muncul di pertengahan ayat, maka tidak dibenarkan untuk berhenti dan jika berada di penghujung ayat, pembaca tersebut boleh berhenti atau tidak;
  13. tanda kaf ( ) merupakan singkatan dari "Kadzaalik" yang bermakna "serupa". Dengan kata lain, makna dari waqaf ini serupa dengan waqaf yang sebelumnya muncul;
  14. tanda bertitik tiga ( ... ...) yang disebut sebagai Waqaf Muraqabah atau Waqaf Ta'anuq (Terikat). Waqaf ini akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membacanya adalah harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tajwid”.

Untuk pemesanan Al-Quranku bisa langsung ke http://alquranku.com/

atau menghubungi customer service kami di no 021 314 0808 atau 081617200300

Jumat, 03 Oktober 2014

Standardisasi Mushaf Al-Qur'an Tajwid Warna di Indonesia

Saat ini penerbitan mushaf Al-Qur’an dengan berbagai variasi dan format mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satu di antaranya adalah penerbitan mushaf Al-Qur’an dengan Tajwid Warna, yang mulai muncul pada sekitar tahun 2000-an, di Saudi, Damaskus, dan India. Sementara di Indonesia, Mushaf Tajwid Warna mulai dicetak dan beredar sekitar tahun 2005-an. Penerbit Al-Qur’an yang mula-mula menerbitkan Mushaf Tajwid Warna adalah Lautan Lestari dan Yayasan Jayabaya.
Pada awalnya, bacaan tajwid yang diwarnai hanya sekitar 7 bacaan, yaitu Gunnah, Qalqalah, Idgām Bigunnah, Iqlāb, Ikhfā`, Idgām Mimi, dan Ikhfā` Syafawi (mushaf model blok terbitan Lautan Lestari; dan mushaf model arsir dari Yayasan Jayabaya menambah 1 bacaan lagi dengan memasukkan bacaan Idgām Bilāgunnah). Adapun Warna Tajwid yang digunakan antara penerbit Lautan Lestari dan Jayabaya untuk setiap bacaan tajwid berbeda satu sama lain. (Lihat Tabel di bawah)
Warna Warna Tajwid Al-Qur'an Sebelum Standadisasi
Dalam perkembangannya, Mushaf Tajwid Warna mengalami perkembangan yang cukup pesat, ditandai dengan banyaknya penerbit Al-Qur’an yang menerbitkannya dengan berbagai variasi, sistem pewarnaan tajwid, dan warna yang berbeda-beda. Munculnya perbedaan warna antara satu penerbit dengan lainnya terutama disebabkan oleh adanya kekhawatiran dalam hal hak cipta, dan karena tidak adanya pedoman standar.  Hal ini, pada gilirannya berdampak secara langsung kepada masyarakat pembaca, yaitu munculnya kebingungan dan kesulitan dalam membaca Mushaf Tajwid Warna.
Setidaknya, dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 telah muncul beberapa model pewarnaan tajwid, yaitu:
  1. Model Arsiran
    Diterbitkan oleh Yayasan Jayabaya Jakarta (tashih Juni 2005). Al-Quran “Mushaf at-Tahir” ini memiliki 8 warna, yaitu bacaan Gunnah, Qalqalah, Idgām Bigunnah, Idgām Bilāgunnah, Iqlāb, Ikhfā`, Idgām Mimi, dan Ikhfā` Syafawi.
  2. Model Blok
    Diterbitkan oleh Lautan Lestari Jakarta (tashih Desember 2005). Al-Qur’an dengan blok warna ini hanya memiliki 7 warna, yang meliputi bacaan Gunnah, Qalqalah, Idgām Bigunnah, Iqlāb, Ikhfā`, Idgām Mimi, dan Ikhfā` Syafawi.
  3. Model Warna pada Harakat/Huruf
    Mushaf Al-Qur’an model warna pada huruf/harakat ini diterbitkan oleh beberapa penerbit, yaitu Mushaf ar-Rusydi oleh Cahaya Qur’an (tashih Agustus 2006), Syamil Al-Qur’an oleh Sygma (tashih September 2006), Pena Qur’an oleh Pena Pundi Aksara (tashih Juni 2007), Al-Qur’an Mushaf Tajwid oleh Diponegoro (tashih April 2009), Hilal Qur’anoleh Jabal Raudhotul Jannah (tashih Februari 2009).
    Masing-masing mushaf menggunakan warna dan variasi yang berbeda satu sama lain. Sementara bacaan tajwid yang diwarnai menjadi berkembang dari dua model sebelumnya, yang meliputi bacaan Mad, Ra’ Tafkhim, tanda-tanda waqaf, dan huruf-huruf yang tidak dilafalkan.
  4. Model 12 Warna dengan Blok
    Mushaf Tajwid model ini diterbitkan oleh Suara Agung, dengan tanda tashih Mei tahun 2008. Sesuai dengan namanya “Al-Qur’an Tajwid 12 Warna dan Terjemah”, Mushaf ini menggunakan 12 macam warna. Sementara hukum tajwid yang diwarnai meliputi 13 item bacaan.
Standardisasi Pewarnaan Tajwid
Berangkat dari fakta munculnya beragam model pewarnaan tajwid yang berbeda-beda dan dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat pembaca, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an berinisiatif melakukan Buku Pedoman Tajwid WarnaStandardisasi Pewarnaan Tajwid. Lajnah menyelenggarakan Lokakarya Tajwid Sistem Warna pada tanggal 27 s.d. 29 Oktober 2009, yang melibatkan para pakar dan ulama Al-Qur’an serta penerbit Al-Qur’an, yang menghasilkan rekomendasi agar Lajnah secepatnya menyusun Pedoman Tajwid Warna. Setelah kurang lebih satu tahun membahas perumusan sistem warna dan model pewarnaan, pada awal tahun 2011 buku Pedoman Tajwid Sistem Warna dapat diselesaikan dan disahkan.
Hal-hal yang diputuskan dan ditetapkan dalam buku Pedoman Tajwid Sistem Warna, antara lain meliputi:
A. Sistem pewarnaan dirumuskan menjadi empat kelompok:
  1. Kelompok hukum bacaan huruf, meliputi: idgam bilagunnahidgam mutamasilain,idgam mutajanisainidgam mutaqaribainidgam bigunnahidgam mimigunnahiqlab,ikhfa', dan ikhfa' syafawi.
  2. Kelompok hukum bacaan panjang, meliputi: madd lazim dan madd farqmadd wajib muttasilmadd ja’iz munfasil, silah tawilah.
  3. Kelompok tanda waqaf, meliputi: waqaf lazimal-waqfu aulawaqaf mu‘anaqahwaqaf ja’izal-waslu aula, dan lawaqfa fih.
  4. Huruf yang tidak dilafalkan.
B. Warna yang digunakan adalah enam warna: Merah (C:0, M:100, Y:100, K:0), Magenta (C:0, M:100, Y:0, K:0), Biru(C:100, M:100, Y:0, K:0), Cyan (C:100, M:0, Y:0 K:0), Hijau (C:100, M:0, Y:100, K:0), Grey (C:0, M:0, Y:0, K:30).
Penerapannya dalam hukum-hukum tajwid disesuaikan dengan pengelompokan pada poin A di atas, yaitu:Contoh Al-Qur'an dengan Sistem Tajwid Warna
  1. Kelompok hukum bacaan huruf: a. Warna magentaidgam bigunnahidgam mimi, dan gunnah; b. Warna merahidgam bilagunnah, idgam mutama£ilainidgam mutajanisainidgam mutaqaribainc. Warna cyaniqlabd. Warna hijauikhfa', dan ikhfa' syafawi; dan e. Warna biruqalqalah.
  2. Kelompok hukum bacaan panjang: a. Warna magentamadd lazim dan maddfarqib. Warna cyanmadd wajib muttasil; dan c. Warna hijaumadd ja’iz munfasil dan madd silah tawilah.
  3. Kelompok tanda waqaf: a. Warna merahwaqaf lazim dan al-waqfu aulab. Warna biruwaqaf mu‘anaqah dan waqaf ja’iz; dan c. Warna hijaual-waslu auladan la waqfa fih.
  4. Huruf yang tidak dilafalkan diberi warna grey.
C. Sistem pewarnaan pada tajwid warna bisa menggunakan salah satu dari tiga model:
  1. Model Akademik; adalah pola pewarnaan berdasarkan kaidah tajwid, yaitu pewarnaan pada huruf-huruf dan harakat yang menimbulkan sebuah hukum bacaan tajwid.
  2. Model Fonetik; adalah pola pewarnaan berdasarkan pelafalan, yaitu pewarnaan pada huruf dan harakat yang dilafalkan karena mengandung hukum tajwid.
  3. Model Praktis; adalah pola pewarnaan berdasarkan pada tanda baca yang menunjukkan hukum tajwid.

    Dengan telah disahkannya Pedoman Tajwid Sistem Warna ini, diharapkan seluruh penerbitan Mushaf Tajwid Warna di Indonesia dapat mengacu kepada pedoman tersebut.


Untuk pemesanan Al-Quranku bisa langsung ke http://alquranku.com/

atau menghubungi customer service kami di no 021 314 0808 atau 081617200300

Keutamaan Membaca Al Qur’an

Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa’at (penolong) baginya pada hari Kiamat.Allah SWT telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, dan terdapat dalam firman-Nya: “…. Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha:123)

Perumpamaan mukmin yg membaca Al-Qur’an: Diriwayatkan dari shahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu  bahwa Rasulullah saw bersabda : “
  1. Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Al-Atrujah,  aromanya harum dan rasanya enak.
  2. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah Kurma,yang tidak beraroma sedang rasanya enak dan manis.
  3. Perumpamaan orang munafik yang rajin membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Raihanah, aromanya wangi sedang rasanya pahit.
  4. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Hanzhalah, tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” (HR. Bukhari no. 5427, HR. Muslim no. 797)
Berikut 10  Keutamaan membaca Al-Qur'an Menurut  Al-Qur'an dan Hadits Shahih : 
  1. Memperoleh Pahala Berlipat Ganda Yang Sempurna
    • Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah SWT dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengaan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah SWT menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir:29-30)
    • Rasulullah saw bersabda: ”Barangsiapa yang membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf (HR. At-Tirmizi no. 2910). 
    • Terlebih lagi pada bulan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an. Tentu, pahalanya berlipat ganda dibandingkan dengan bulan-bulan biasa.
    • Hadits ini juga menjelaskan perhitungan yang rinci mengenai pahala membaca Al Qur'an. Tiap huruf berpahala 10 kebaikan. Kita mungkin bisa membayangkan apa yang bisa kita beli dengan uang $1.000 Dollar. Tapi, bisakah kita bayangkan apa yang "bisa" kita beli dengan 1.000 kebaikan? Salah satu yang bisa kita "beli" adalah keburukan-keburukan kita. Maksudnya, Allah SWT akan mengikis dosa dan keburukan kita dengan kebaikan-kebaikan yang kita miliki. Firman Allah SWT, "Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. " (QS Hud:114)
  2. Akan mendapat Rahmat, Petunjuk, Keselamatan dan Kasih sayang dari Allah SWT
    • Firman Allah SWT: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dariAllah SWT, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah SWTmenunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah SWT mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al-Ma’idah: 15-16).
  3. Sebagai penyembuh dari segala penyakit
    • Firman Allah SWT: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. ” (QS Yunus: 57). “Katakanlah: ‘Al Qur’an itu adalah petunjuk dan obat penawar bagi orang-orang yang beriman” (QS Fushshilat : 44)
  4. Al-Qur’an akan menjadi penolong di hari kiamat
    • Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : ”Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafa’at(penolong) bagi orang yang membacanya dan mentaatinya.” (HR. Muslim no. 804). Tentunya tidak hanya sekedar membaca, juga mengamalkannya. Selain Rasulllah saw, tidak seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepada seseorang pada hari hisab, kecuali Al-Qur’an yang dibaca selama ia hidup di dunia.
    • Dan dari Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwaRasulullah saw bersabda : “Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafa’atkepada hamba kelak di hari kiamat, Puasa berkata : “Ya Rabbku saya telah mencegahnya dari memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan berkata Al Qur’an :”Saya telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya,Rasulullah saw :”Maka keduanya memberikan syafa’at” (HR. Ahmad)
    • Dari shahabat An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi radhiallahu ‘anhuberkata : saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan Al-Qur’an di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan surah Ali Imran, keduanya akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim no. 805)
    • Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surah Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya. (HR. Muslim no. 804)
  5. Mahluk Allah SWT yang Terbaik.
    • Dari shahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu berkata, bahwaRasulullah saw bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajariAl-Qur’an dan yang mengajarkannya” (HR. Al-Bukhari no. 5027)
    • Abdul Humaidi Al-Hamani, berkata: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab: “Membaca Al-Qur’an. Karena Rasulullah saw bersabda. ‘Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
    • “Ilmu adalah kehidupannya Islam dan tiangnya keimanan. Dan barangsiapa mengajarkan ilmu, maka Allah SWT akan menyempurnakan pahalanya, dan barangsiapa yang belajar, lantas mengamalkan(nya), maka Allah SWT akan mengajarkan kepadanya apa-apa yang tidak ia ketahui” (HR. Abu Syaikh)
  6. Dikumpulkan bersama para malaikat.
    • Dari Ummul Mu`minin ‘Aisyah berkata, bahwa Rasulullah sawbersabda, ”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (HR. Muslim no. 798, HR Al-Bukhari no. 4937) Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
    • Rasulullah saw bersabda: ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah SWT (masjid) untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan
    1. ketenangan jiwa bagi mereka, 
    2. mereka diliputi oleh rahmat,
    3. dikelilingi oleh para malaikat, dan
    4. Allah SWT menyebut nama-nama mereka di hadapan para Malaikatyang ada di sisi-Nya.
    • Dari Usaid bin Hudhair ra, suatu hari ia sedang membaca surah Al Baqarah sedangkan kudanya diikat di dekatnya. Tiba-tiba kudanya terkejut ketakutan. lalu ia diam, maka kudanya pun diam. Kemudian, ia membaca. Kudanya terkejut ketakutan lagi. Ia pun diam, kudanya pun diam. Kemudian ia membaca lagi. Kudanya terkejut ketakutan lagi. Lalu ia pun beranjak. Saat itu putranya, Yahya, berada dekat dengan kuda itu, maka ia khawatir kuda itu akan mengenai anaknya. Ketika menarik anaknya, Usaid mengangkat kepalanya menghadap langit hingga ia tidak melihatnya. Ketika waktu subuh tiba. ia bercerita kepada Rasulullah saw. Beliau pun bersabda, "Bacalah hai Ibnu Hudhair! Bacalah hai Ibnu Hudhair!". Ia menjawab, "Saya khawatir kuda itu menginjak Yahya, wahai Rasulullah saw, saat itu Yahya dekat dengan kuda itu. Lalu saya angkat kepala saya menghadap langit, ternyata di langit ada semacam awan yang di dalamnya ada semacam lampu-lampu, lalu lampu-lampu itu keluar hingga saya tidak bisa melihatnya lagi". Rasulullah sawbertanya, "Tahukah engkau apa itu?"Kata Usaid, "Tidak", Beliau bersabda, "Itu adalah malaikat yang mendekat karena suaramu. Andaikata engkau terus membaca, pasti ia akan tetap ada sampai subuh dan orang-orang dapat melihatnya karena ia tidak akan tersembunyi dari mereka." (HR. Al Bukhari)
  7. Al-Qur’an menentukan derajat bagi pembacanya
    • Dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, bahwaRasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah SWT meninggikan (derajat) ummat manusia ini dengan Al-Qur’an dan membinasakannya pula dengan Al-Qur’an”  (HR. Muslim no. 269)
    • “Akan dikatakan kepada para penghafal Al-Qur`an, “Bacalah dan naiklah ke atas. Bacalah dengan tartil sebagaimana dulu kamu di dunia membacanya dengan tartil. Karena jenjang kamu (di surga) berada di akhir ayat yang dulu kamu biasa baca.” (HR. Ahmad no. 6796). Siapa yang membaca dengan sempurna seluruhnya Al-Qur'an maka ia menempati tingkatan surga yang paling atas di akhirat. Sedang siapa yang membaca sesuatu juz darinya, maka kenaikannya dalam tingkatan surga sesuai dengan bacaannya itu. Dengan demikian, akhir pahalanya adalah pada akhir bacaannya.
  8. Kedua Orang Tuanya mendapatkan mahkota surga.
    • Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa selalu membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya niscaya Allah SWT akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya besok di hari kiamat yg mana cahaya mahkota tersebut lebih indah dari cahaya matahari yg menyinari rumah-rumah di dunia. dan dipakaikan kedua orang tuanya perhiasan yang tidak didapatinya didunia, lalu keduanya bertanya : dengan amal apa hingga kita diberikan pakaian ini ? dikatakan : karena anakmu hapal Al-Qur’an”. Maka apakah gerangan balasan pahala yg akan dianugerahkan kepada orang yg membaca dan mengamalkan Al-Qur’an itu sendiri? ” . (Riwayat Abu Dawud)
  9. Membaca Al Qur’an lebih berharga dibanding Harta benda dunia
    • Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhumaRasulullah saw bersabda: "Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniaiAllah SWT keahlian tentang Al-Qur`an, lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah SWT kekayaan harta , lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang". (Hadits Muttafaq 'Alaih). Yang dimaksud hasad di sini yaitu menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469).
    • Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah sawbersabda: “Apakah salah seorang dari kalian suka jika ketika dia kembali kepada isterinya, di rumahnya dia mendapati tiga ekor unta yang sedang bunting lagi gemuk-gemuk?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Tiga ayat yang dibaca oleh salah seorang dari kalian di dalam shalatnya adalah lebih baik daripada ketiga ekor unta yang bunting dan gemuk itu.” (HR. Muslim no. 802)
    • Dari 'Uqbah Bin 'Amir ra berkata Rasulullah saw Bersabda : "Siapakah di antara kalian yang tiap hari ingin pergi ke Buthan atau 'Aqiq dan kembali dengan membawa dua ekor unta yang gemuk sedang dia tidak melakukan dosa dan tidak memutuskan hubungan silaturahmi?" Kami menjawab, "Kami ingin ya Rasulullah" Lantas beliau bersabda, "Mengapa tidak pergi saja ke masjid; belajar atau membaca dua ayat Al Qur'an akan lebih baik baginya dari dua ekor unta, dan tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik dari empat ekor unta, demikianlah seterusnya mengikuti hitungan unta."(HR Muslim)
    • Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman : “Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat memohon kepada-KU, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Ku berikan kepada orang-orang yang memohon’. Dan keutamaan kalam Allah SWT atas semua perkataan adalah seperti, keutamaan Allah SWT atas makhluk-Nya. (HR Tirmidzi)
  10. Dijauhi Setan & Kesusahan
    • Rasulullah saw bersabda, "Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al Baqarah" (HR Muslim dari Abu Hurairah ra)
    • Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan.” (HR. Muslim)
    • Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Daru Quthni dari Anas r.a,Rasulullah saw memerintahkan: "Perbanyaklah membaca Al Qur'an di rumahmu, sesungguhnya didalam rumah yang tak ada orang membacaAl Qur'an, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan dirumah itu, dan akan banyak sekali kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah."
    • Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas r.a;Rasulullah saw  bersabda: "Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan shalat dan dengan membaca Al Qur'an."
Sumber : http://tausiahmuslim.blogspot.com/2011/11/keutamaan-membaca-al-quran.html


Untuk pemesanan Al-Quranku bisa langsung ke http://alquranku.com/

atau menghubungi customer service kami di no 021 314 0808 atau 081617200300

Rabu, 24 September 2014

Event

Event Like and Share Bagi kalian yang penasaran, apa sih even Like and Share itu? Event like and share adalah Event di mana kalian hanya perlu Like dan Share foto yang telah kami sediakan, lalu kamu berhak memilih hadiah yang kamu inginkan. Mudah kan?
Bagi kalian yang ingin ikutan, bagaimana sih caranya? Yuk langsung lihat !

Syarat Dan Ketentuan :
  1. Kalian hanya Like Fanpage kami di alquranku http://www.facebook.com/Alquranku99 dan follow twitter kami di https://twitter.com/alquranku_99 untuk mengikuti Event ini.
  2. Undang sebanyak2nya teman kalian untuk like FanPage alquranku.
  3. Like and Share foto yang telah kami sediakan.
  4. Kalian Share foto tersebut dengan menekan tanda “share” lalu tag kami sampai berwarna biru. 
  5. Kalian hanya cukup comment tentang produk alquranku di foto tersebut. Lalu pilih hadiah apa yang kalian inginkan. (*baca pilihan hadiahnya di bawah).

Langkah selanjutnya, setelah kalian telah mengikuti step-step di atas, para peserta diharapkan langsung mengirimkan email ke alquranku99@gmail.com dengan format:

Subject / Judul: Event share alquranku – Like and Share
Nama Asli sesuai KTP :
Nama & Link Account Facebook: [contoh] http://facebook.com/tika -> link yang berada di Profile kalian
Alamat Lengkap:
No. Telp yang dapat dihubungi:
Email:

Event ini akan berlangsung dari tanggal 19 September - 19 Oktober 2014

Perhatian !
Keputusan pihak lestari book adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Tertutup bagi karyawan dan staff lestari book.
Dengan mengikuti Event ini, maka peserta dianggap sudah membaca dan menyetujui peraturan yang berlaku.
Peraturan di atas dapat berubah sewaktu waktu tanpa pemberitahuan, peserta diharapkan untuk membaca dan mengecek dari waktu ke waktu peraturan terbaru kami.

Hadiah :
→ Untuk ketentuan pemenangnya adalah peserta yang banyak teman me-Like Fans Page kami dan aktif selama Event ini berlangsung. Capture aktifitas Like FanPage alquranku pada halaman FB mu Seperti contoh di bawah ini :
→ Share sebanyak-banyaknya foto produk alquranku ( jangan lupa men-tag kami @Alquranku99 ) dan dapatkan pilihan hadiah berupa alquran: master piece, tafsir ilmi, juz'ammaku pintar (1 juz'amma 16 keunggulan).
*Hadiah dikirimkan 1 minggu setelah pengumuman.
Apabila kakak adalah pemenang event dan belum mendapatkan hadiah silahkan kirimkan email kepada team GM alquranku, pastikan pengisian data anda benar karena kami tidak dapat memproses apapun bila data yang diberikan tidak valid.

Copyright @ 2013 Kebanggaan Indonesia.